Kamis, 09 Agustus 2012

UNTUKMU


               
                Malam ini aku kembali tak bisa tidur, aku melamun menatap terangnya cahaya bulan. Hah, malam semakin malam, aku terus larut dalam lamunan. Mulutku membisu, pikiranku melayang jauh, tertekan semakin dalam, aku menata sebuah impian.
            “Nduk, kenapa kamu masih di luar?, udara semakin dingin, masuklah, nanti kamu sakit, uhuk uhuk uhuk”, aku terkejut mendengar suara wanita setengah baya yang memanggilku untuk masuk dalam gubuk, rumah yang kami tinggali saat ini. “Iya nek, sebentar lagi”, jawabku.
            Aku bergegas menata ketupat yang sudah aku buat tadi, yaa beginilah, keseharianku sepulang sekolah, aku harus bekerja keras membantu nenekku membuat ketupat untuk esok pagi harinya dibawa nenekku ke pasar untuk dijual. Uang hasil penjualan ketupat,  kami gunakan untuk membeli sesuap nasi, membayar kontrakan, dan sisanya ditabung. Untunglah aku mendapatkan beasiswa prestasi di sekolah sehingga nenek tidak perlu menyisihkan uangnya untuk membayar sekolahku.
            Keesokan harinya, “Nek, aku berangkat sekolah dulu ya?, ketupatnya udah aku taruh di dalam baskom orange di dalam almari dapur nek”, kataku sambil bergegas mengambil tas dan lari keluar rumah. Setiap hari aku ke sekolah dengan berjalan kaki, bersama sahabatku Citra, dia anak guru, walaupun hidupnya juga sederhana, tapi setidaknya tidak sesusah aku, karena Citra masih memiliki kedua orang tua.
            Sesampainya di sekolah, “Pagi pak Tarjo”, sapa ku dan Citra dengan penuh ceria, “Eh, neng Cika sama neng Citra pagi benar datangnya”.  Pak Tarjo adalah satpam di SMA Wijaya Arum, sekolah kami. “Iya dong pak, kan kami ini siswa rajin, hahaha”, gurau Citra. “Wah, iya iya, yasudah sana masuk kelas, belajar yang tekun neng supaya besok bisa jadi presiden”, jawab Pak Tarjo. “Haha, oke pak, mari”, kataku. “Iya neng mari”, jawab Pak Tarjo dengan lemah lembut.
            Di kelas sebelas bangku SMA ini, banyak sekali kesempatan mengikuti berbagai perlombaan, baik olimpiade akademi , maupun non akademi, itulah alasan setiap hari anak-anak kelas sebelas di sekolahku rajin mengikuti ekstrakulikuler yang diminati masing-masing. Aku mengikuti ekstrakulikuler tari, kebetulan hari ini ada pengumuman bahwa akan diadakan lomba menari tingkat provinsi, tarian yang harus di bawakan adalah tarian bentuk kreasi.
            “Cik, ayo jajan dulu di kantin, kan dari tadi kamu belom makan, ini uda siang, bentar lagi kita kan latihan nari sama bu patmi Cik”, ajak citra padaku, “Tapi”, belum selesai aku menjawabnya Citra berkata, “ayolah, aku yang bayar kok beyb, tenang aja, yang penting jangan lebih dari lima ribu ya”, aku tersenyum dan menarik tangan Citra, menuju kantin. Citra memang sudah mengerti betul keadaan ekonomi keluargaku, dulu memang aku orang berada, tapi semenjak Ayahku dipenjara kasus korupsi, dan ibuku meninggal, hidupku menjadi seperti ini.
            “Buk, pesen mie ayam dua sama es teh dua”, teriak Citra. “haduhh, suara kamu ini membuat tikus lari semua Cit, haha”, kataku dengan ketawa. “Kalo ngga keras tuh buk’e ngga denger Cik, kan yang ngantri banyak”, jawab Citra. “Iya deh, terserah kamu yang penting cepetan, lima belas menit lagi waktunya latihan, haha”, kataku. “Iya iya neng gelis”, jawab Citra.
            Sambil menghabiskan mie yang sudah kami pesan tadi kami bergurau, membahas pelajaran di kelas tadi, ngomongin temen yang paling kece, sampai guru-guru pun jadi sasaran perbincangan kami. Setelah menghabiskan mie ayam, Citra mnegeluarkan lembar sepuluh ribuan dari saku bajunya, dan memberinya pada buk’e kantin, “pas ya uangnya”, kata Citra pada buk’e, “Iya pas nak, makasi ya”, jawab buk’e, “Iya sama-sama buk”, kata Citra.
            Kami menuju joglo tempat kami biasa latihan menari bersama bu Patmi dan teman-teman lainnya, tapi kebetulan hari ini hanya aku dan Citra yang berangkat latihan, teman-teman yang lain sibuk mengurus remidi matematika yang akan dilaksanakan besok pagi, maklum guru matematika kami sangat galak, untunglah aku dan Citra tidak harus mengikuti remidi itu.
            “Cit, Cik kalian berdua mau tidak ikut lomba menari yang sudah ibu umumkan lewat radio sekolah tadi”, Tanya Bu Patmi pada aku dan Citra. Aku dan Citra saling berpandangan dan melongok, kaget bercampur senang karena memang itu rencana kami, “wahh, mau banget buk, aku mau banget”, jawabku dengan penuh semangat, “Iya buk aku juga mau”, tambah Citra. “Baiklah kalau begitu isi formulir ini ya, tapi ngisinya di rumah saja, dikumpulkan besok pagi di meja ibuk, sekarang kalian pakai jariknya dulu, kita ulang tarian yang kemarin ibu ajarkan, Gambyong Parianom”, kata Bu Patmi. “baik buk”, jawab kami kompak. Tarian Gambyong Parianom yang diajarkan Bu Patmi ini sangat bermanfaat bagiku, karena dengan tarian ini aku bisa mendapatkan uang dengan menampilkannya di acara hajatan tetangga-tetanggaku, biasanya aku dan citra memang selalu diminta untuk menari pada saat ada acara mantenan di kampung kami, bayarannya memang tidak begitu banyak, hanya lima puluh ribu saja, tapi bukan hanya itu tujuanku, aku senang bisa menghibur orang banyak.
            Setelah selesai latihan menari, aku dan Citra duduk bersama Bu Patmi, sambil istirahat dan ngobrol bersama. Bu Patmi mengatakan pada aku dan Citra  bahwa biaya pendaftaran menari sebesar dua ratus ribu, sedangkan anggaran dari sekolah hanya diberi seratus ribu, tetapi nanti jika menang semua hadiah kecuali piala akan diserahkan seutuhnya, hadiahnya rumayan besar, juara pertama akan mendapatkan hadiah sebesar lima juta, dan tiket gratis kunjungan ke Bali selama seminggu,  sedangkan juara dua akan diberi hadiah dua juta rupiah, dan tiket kunjungan ke Bali selama tiga hari, Juara tiga hanya mendapatkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah.
            Aku dan Citra sangat bersemangat untuk mengikuti perlombaan itu, apalagi jika teringat dengan nenekku, jika aku menang uang itu akan ku gunakan untuk mebelikan baju baru dan memeperbaiki gubuk kami yang kayunya sudah dimakan rayap, anganku jauh melayang penuh dengan harapan. “Baiklah anak-anak, sekarang latihan sudah selesai, kalian pulanglah, ibu juga mau pulang”, kata Bu Patmi padaku dan Citra, “Iya buk”, jawab ku, “jangan lupa formulirnya di isi, dan besok ibu tunggu di kantor”. “Baik Bu”.
            Sesampainya di rumah, hari sudah mulai gelap, matahari telah terkapar di ufuk barat, seakan lelah, selayak jasad yang kalah, terdampar tak berdaya, dunia menjadi gelap. “Nek, aku punya kabar baik”, kataku pada Nenek. “Kabar baik apa nduk?”. “Aku dan Citra akan mengikuti lomba menari tingkat provinsi Nek”, “wah, bagus itu nduk, kapan lombanya?”, “Dua minggu lagi Nek, doakan aku ya Nek, supaya bisa jadi juara”. “Pasti, pasti nenek doakan nduk”. Tertegun aku saat merasakan telapak tangan renta yang memelukku dalam kehangatan, sambil berlinang air mata Nenekku berkata, “maaf nduk, Nenek tidak bisa memberimu kehidupan yang layak, kamu harus bekerja keras membantu nenek”, “nenek jangan sedih, aku saying sekali pada nenek, nenek doakan aku ya supaya aku bisa lolos kompetisi nari tingkat provinsi nanti”. “iya nduk, nenek doakan”.
            Waktu berlalu dan kian berlalu, keringat tercucur d’pipiku, jari jemari, tangan, badan, dan kakiku ku gerakan sesuai irama dan tuntunan ibu guru, harmoni alam sangat terasa menyatu dalam hatiku, aku sungguh menikmati latihan menari ini. Setiap malam aku selalu berdoa dan berdoa, semoga apa yang aku kerjakan tidak sia-sia.
            Akhirnya hari itu datang juga, aku dan sahabatku Citra saling memberi semangat, lawan kami sangat banyak, dan semuanya dari SMA ternama d’provinsi ini. “Cika, Citra kalian mendapat nomer urut….”, tanganku sudah mulai berkeringat, badanku gemeteran, dan kondeku terasa mau copot. “dua”, hah sungguh membuatku sport jantung, ternyata aku mendapat nomer urut dua dalam kompetisi ini.
            Detik demi detikpun berlalu, aku sangat gugup menyaksikan hasil dari kompetisi ini, aku dan Citra sudah menampilkan yang terbaik dalam kemampuan kami. “Dan juara pertama adalah….SMA Wijaya Arum”, sekilas aku tak percaya, nama sekolahku tercinta disebut sebagai juara pertama, itu artinya impianku membahagiakan nenek bisa terwujud. Aku dan Citra maju ke depan untuk menerima piala, piagam serta hadiahnya. Waw, itu sungguh luar biasa.
            Dan akhirnya aku pulang tanpa tangan hampa, dari kejauhan nenekku sudah tersenyum bahagia, bisa kulihat dari pancaran sinar air matanya. Dalam hatiku aku berkata “Ini Untukmu Nenekku sayang”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar